Sifat Allah yang 20 (bagian 1): Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah.

Veröffentlicht von Gery Vidjaja am

Dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah ada 20 Sifat yang mesti kita pelajari. Tetapi Sifat Allah bukanlah hanya 20. Berapa banyak Sifat Allah? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Sifat Allah yang ada dalam Nama Allah yang diberitahukan kepada kita melalui Kitabullah ada 99 jumlahnya yang disebut Asma ul Husna.

Ilmu Aqidah Sifat 20 disusun oleh dua Ulama Tauhid Ahlusunnah Wal Jama’ah yaitu Imam Abul Hasan Al Asy´ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi. Mengapa hanya 20 Sifat Allah yang dipelajari ? Sebab 20 Sifat Wajib Allah inilah yang menjadi perbincangan di zaman salaf ketika adanya fitnah Aqidah terutama dari golongan Muktazilah yang berfahaman Qadariyah, yaitu fahaman yang mendahulukan akal dari pada wahyu sehingga mengatakan bahwa makhluk diberi kekuatan oleh Allah kemudian beranggapan bahwa kekuatan yang diberikan Allah itu dapat digunakan sekehendak makhluk tanpa campur tangan Kuasa dan Kehendak Allah, sedang golongan Jabariyah mengatakan bahwa nasib manusia sepenuhnya ada pada Kuasa dan Kehendak Allah, sehingga manusia tidak dapat berusaha mengubah nasibnya dan hanya berserah diri kepada Allah.

Mempelajari Sifat 20 ini dimaksudkan untuk memudahkan kita mempelajari Sifat Allah yang lain. Sifat 20 ini sudah dianggap cukup dalam memberi kefahaman kepada kita bahawa Allah ta`ala memiliki segala sifat kesempurnaan. Maha Suci Allah daripada segala sifat kekurangan.

Penyusunan Sifat Allah yang 20 ini berdasarkan dalil Aqli (akal) selain dalil Naqli (Quran dan Hadits). Kita tidak disuruh untuk memikirkan Dzat Allah, sebab kita tidak akan mampu, Kita disuruh untuk mengenali Allah dengan memperhatikan dan berfikir tentang tanda-tanda Sifat dan Perbuatan Allah pada ciptaanNya. Allah berfirman dalam  Qur´an surat Ali Imran ayat 190-191:

Surat Ali Imran Ayat 190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

Surat Ali Imran Ayat 191

(yaitu) orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Perhatikan dalam ayat di atas bahwa terhadap Dzat Allah kita tidak disuruh memikirkan (Dzat) Allah melainkan kita disuruh untuk selalu mengingati atau berdzikir dan menyebut Asma Allah. Sedangkan dalam berfikir, kita disuruh memikirkan ciptaan Allah. Itulah yang dijelaskan dalam ayat tersebut sebagai orang yang berakal.
Termasuk dalam ciptaan Allah adalah diri kita sendiri, sebagaimana firman Allah dalam QS Adz-Dzariyaat: 20-21

Surat Adz-Dzariyat ayat 20
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
Surat Adz-Dzariyat ayat 21
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Kita dapat memperhatikan tanda-tanda Sifat dan Perbuatan Allah dengan akal yang dikaruniai oleh Allah. Oleh sebab itu dikatakan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal. Salah satu syarat mukallaf yaitu orang yang dibebani melaksanakan syariat adalah sehat akalnya. Disinilah perlunya kita mengenal ilmu Mantiq (ilmu Logika) agar kita tidak keliru dalam menggunakan akal kita untuk memahami Aqidah sebagaimana kita mengenal ilmu Tajwid agar kita tidak keliru dalam membaca Al Qur´an.
Akal kita memahami Sifat dan Perbuatan Allah, yang dengan itu hati kita kemudian mengimani dan meyakini Allah. Dan seterusnya mudah-mudahan kita dapat mengenal Allah.

20 Sifat Wajib Allah dibagi menjadi 4 bagian yaitu:

I. Sifat Nafsiyah (1 Sifat)
II. Sifat Salbiyah (5 Sifat)
III. Sifat Ma’ani (7 Sifat)
IV. Sifat Ma’nawiyah (7 Sifat)

Imam Abul Hasan Al Asy’ari tidak membedakan Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’anawiyah, sehingga jumlah Sifat Allah yang dipelajari hanya 13 yang hakikatnya sama dengan Sifat yang 20.

I. Sifat Nafsiyah yaitu Sifat dzat yang menetapkan ada atau tidaknya suatu dzat. Sifat ini hanya ada satu yaitu

1. Wujud yang artinya ada.

Dalil Naqli: banyak sekali ayat Quran yang menjelaskan adanya Allah, diantara QS Al Furqan:61

Al Furqan ayat 61

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Disebut dalam ayat di atas kewujudan Allah yang menjadikan gugusan bintang, matahari dan bulan.

Dalil Aqli: kita melihat adanya alam ini. Menurut hukum akal, mustahil alam semesta ini terjadi dengan sendirinya. Alam ini pasti ada suatu Dzat Yang Maha Agung dan Maha Hebat yang menciptakan, mengatur dan memeliharanya, Dialah Allah. Maka menurut akal, Wajib bahwa Allah itu bersifat Wujud (ada) dan mustahil Allah itu bersifat ´Adam (tidak ada).

Sifat Wujud ini sebenarnya sudah mencakup Sifat Salbiyah yang akan dibahas kemudian. Namun karena untuk menguatkan pemahaman tentang Sifat WujudNya Allah, Ulama menerangkan lebih rinci dengan Sifat Salbiyah.

II. Sifat Salbiyyah adalah sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah Subhanahu wa Ta´ala, sebab Dzat dan Sifat Allah Maha Sempurna dan tidak memiliki kekurangan. Sebenarnya Sifat Wujud Allah sudah mengandung sifat yang menolak sifat kekurangan yang ada pada makhluk. Namun Ulama Tauhid Ahlussunnah Wal Jama’ah menerangkan juga Sifat Salbiyah untuk lebih menjelaskan Sifat Wujud Dzat Allah untuk menutup pintu kemungkinan kesalahan dalam memahami Kesempurnaan WujudNya Dzat Allah.
Mengapa kita memulai dengan mempelajari sifat yang menolak segala sifat-sifat yang tidak layak dan tidak patut bagi Allah?
Telah disebutkan bahwa kita disuruh memikirkan ciptaan Allah untuk mengenal Sifat Allah. Dalam memikirkan ciptaan (makhluk) Allah tentu kita lebih mudah mengenal dan terbiasa dengan sifat-sifat makhluk, sedang kita tahu Allah adalah Khaliq Yang Maha Menciptakan yang berbeda SifatNya dari sifat makhluk. Sifat Khaliq adalah Maha Sempurna dan sifat makhluk adalah serba kekurangan. Maka kita menolak sifat-sifat dzat makhluk yang penuh kekekurangan itu ada pada Dzat Allah Maha Pencipta yang Maha Sempurna. Ini juga sesuai dengan konsep Syahadat Tauhid “Laa ilaaha illallah” yang dimulai dengan menolak adanya ilah (tuhan yang disembah) kemudian menyatakan hanya Allah yang patut disembah.

Sifat Salbiyah ini ada 5 (no. 2 s/d 6) yaitu:

2. Qidam artinya sedia ada. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat huduts (baharu).

Dalil Naqli:

QS Al Hadid:3

Surat Al Hadid Ayat 3

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS Al Ikhlas: 3

Surat Al-Ikhlas Ayat 3
 Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Maksud Yang Awal disitu adalah secara mutlak Allah adalah Yang Awal tanpa ada yang mendahului. Wujud Allah ada tanpa didahului oleh tidak ada, demikian juga maksud Yang Akhir adalah secara mutlak tanpa ada kesudahan. Allah tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanakan.

Dalil Aqli: Setiap yang diciptakan pasti pernah tidak ada, itulah sifat makhluk. Sedang Allah bukan makhluk yang diciptakan. Allah adalah Khaliq Yang Maha Pencipta, maka Mustahil Dzat Allah pernah tidak ada. Oleh sebab itu Wajib menurut hukum akal bahwa Wujud Allah adalah bersifat Qidam (sedia ada/tidak berawal). Mustahil Allah bersifat huduts (baharu = dari tidak ada menjadi ada).

3. Baqa artnya kekal. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat fana (menua/akan sirna/punah)

Dalil Naqli:

QS Al-Qashah:88

Surat Al Qashash ayat 88

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Dzat Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dalam ayat disebut Wajah Allah, maksudnya adalah Dzat Allah. Hanya Dzat Allah tidak akan binasa.

Dalil Aqli: Seluruh makhluk berubah dan menua ketika melalui waktu, dan akhirnya akan sirna dan punah sesuai dengan waktu yang dikehendak Allah. Allah sama sekali tidak terpengaruh dan tidak berubah dengan berjalannya waktu. Maka menurut hukum akal Dzat Allah wajib bersifat Baqa (kekal) dan mustahil bersifat fana (menua/punah/sirna).

Sifat Qidam dan Baqa ini menegaskan Maha Suci Allah dari keterikatan atau terpengaruh dengan waktu. Waktu adalah makhluk. Keterikatan dan terpengaruh oleh waktu adalah suatu sifat kelemahan. Segala sifat kelemahan adalah tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

Perlu ditambahkan disini tentang ciptaan Allah yang dijadikan kekal seperti Syurga dan Neraka beserta penghuninya. Makhluk Allah ini masih terikat dan terpengaruh oleh waktu, tetapi Allah memanjangkan usia makhluk itu sampai waktu yang tak terhingga. Maka kekalnya makhluk yang dikekalkan oleh Allah berbeda dengan Sifat Baqa bagi Allah yang sama sekali tidak terikat dan terpengaruh oleh waktu.

4. Mukhalafatu lil Hawadits artinya tidak serupa dengan yang baharu (makhluk). Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu mumatsalatu lil Hawadits, serupa/semisal dengan yang baharu (makhluk).

Dalil Naqli:

QS Asy-Syura:11

Surat Asy-Syura ayat 11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.

QS Al Ikhlas: 4

Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Dalil Aqli: Allah adalah Khaliq (Maha Pencipta) maka tentu berbeda secara total dengan makhlukNya. Dzat dan Sifat Allah tidak diciptakan, sedang semua makhluk adalah baharu dzatnya dan sifatnya. Baharu atau menyerupai yang baharu (makhluk) adalah satu kelemahan, sifat yang tak layak dan tak patut ada pada Allah. Allah adalah Maha Sempurna, tidak serupa sama sekali dengan makhlukNya yang bersifat baharu dan tidak pula ada yang setara denganNya.

Wajib bagi akal bahwa Allah itu bersifat Mukhalafatul lil Hawadits (tidak serupa dengan yang baharu (makhluk)). Mustahil bagi akal bahwa Allah bersifat Mumatsalatul lil Hawadits (serupa dengan yang baharu (makhluk)).

5. Qiyamuhu Binafsihi, artinya Berdiri Sendiri. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu Sifat Ihtiyajul li ghoirihi (tergantung kepada yang lain).

Dalil Naqli:

QS Al Ankabut:6

Surat Al 'Ankabut Ayat 6

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

QS Al Ikhlas:2
Surat Al-Ikhlas Ayat 2
 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Allah tidak memerlukan makhlukNya, tetapi makhlukNya yang sangat bergantung kepadaNya.

Dalil Aqli: Allah adalah Tuhan yang sedia ada sebelum seluruh makhluk ini ada, maka Sifat Wujud Allah adalah mandiri tidak tergantung dari selainNya. dapat berbuat sekehendakNya, tanpa terikat dan tergantung dengan dengan selainNya. Selain Allah adalah makhlukNya yang pernah tidak ada. Allah tidak terikat dan tergantung pada makhlukNya. sebelum dan sesudah makhluk itu ada atau setelah makhluk itu kembali tidak ada. Maka Wajib bagi Allah bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri) dan Mustahil bersifat Ihtiyajul li ghoirihi (tergantung kepada yang lain).

Sifat Mukhalafatu lil Hawadits dan Qiyamuhu Binafsihi adalah juga menegaskan Maha Suci Allah dari keterikatan dengan tempat. Sebab tempat adalah makhluk, baik tempat di alam nyata maupun tempat di alam ghaib yang pernah tidak ada. Sedang Dzat Allah sedia ada. Keterikatan dengan tempat adalah suatu sifat kelemahan. Segala sifat kelemahan adalah tidak layak dan tidak patut bagi Allah.

Syubhat meyakini Allah bertempat

Memahami Allah berada di atas, di langit dan beristawa (bersemayam) di atas Arasy, sebagaimana makna zahirnya, berarti mengatakan Allah bertempat. Maka hal ini selain mengatakan Dzat Allah:

– tergantung kepada yang lain yaitu tempat “atas”, langit dan Arasy. Tempat “atas”, langit dan Arasy adalah makhluk. Maka meyakini Allah berada di ketiga tempat itu berarti menafikan Sifat Allah Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri).
– serupa dengan makhluk yang memerlukan dengan yang lain, menafikan Sifat Mukhalafatul lil Hawadits (tidak serupa dengan yang baharu/makhluk).
– Juga mengatakan Sifat Allah adalah baharu, karena Sifat Allah “berada” di atas, di langit dan istawa di atas Arasy baru ada setelah adanya makhluk tempat “atas dan bawah”, “langit” dan “Arasy”. Sebelum makhluk-makhluk ini ada, Sifat Allah itu belum ada. Jadi menafikan Sifat Qidam (sedia ada) bagi Sifat Allah.
Kita berlindung kepada Allah dari berkeyakinan demikian. Disini kita sudah dapat melihat betapa pentingnya Ilmu Mantiq untuk memahami Aqidah, sebagaimana ilmu Tajwid untuk membaca Al Qur’an.

6. Wahdaniyah, artinya Maha Esa. Sifat ini menolak sifat yang tidak layak bagi Allah yaitu sifat ta´addud (berbilang) baik pada Dzat, Sifat dan Perbuatan. Maksudnya tidak ada selain Allah yang sama seperti Dzat Allah. Tidak ada selain Allah yang mempunyai sifat yang sama seperti Sifat Allah. Tidak ada selain Allah yang perbuatannya sama seperti Perbuatan Allah.

Dalil Naqli: QS Al Ikhlash:1 – 4

Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.”
Surat Al-Ikhlas Ayat 2
 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Surat Al-Ikhlas Ayat 3
 Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
Surat Al-Ikhlas Ayat 4
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
QS Al Anbiya 22

21:22

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Dalil Aqli: Allah adalah Tuhan yang Maha Berkehendak dan Maha Berkuasa. Maka apa yang ada dan terjadi di alam ini hanyalah atas Kehendak dan Kuasa Allah yang Maha Esa. Tidak mungkin ada yang lain yang dapat mempengaruhi dan memaksa Kehendak dan Kuasa Allah. Berbagi kuasa atau berkompromi untuk mencapai satu kehendak adalah suatu sifat kelemahan yang tak layak bagi Allah. Maka Wajib hanya ada satu Tuhan yang Maha Kuasa dan Berkehendak, itulah Allah.

Allah itu bukan makhluk. Makhluk adalah bertubuh/berjisim, baik makhluk zahir (yang dapat dilihat) maupun makhluk ghaib (yang tidak dapat dilihat). Bertubuh/berjisim adalah memerlukan makhluk lain yaitu tempat (baik zahir maupun ghaib) dan itu adalah suatu kelemahan. Maha Suci Allah dari sifat kekurangan dan kelemahan. Salah satu sifat makhluk adalah berbilang (lebih dari satu), baik secara eksternal dan internal.
– Berbilang secara eksternal maksudnya berjumlah lebih dari satu, contoh: ada banyak malaikat, ada banyak manusia, binatang dsb.
– Berbilang secara internal adalah menerangkan sifat tubuh/jisim. Sebab tubuh/jisim bersifat dapat dibagi-bagi dan terdiri dari bagian-bagian tubuh/jism, Contoh: manusia punya kepala, wajah, tangan, kaki dsb, yang berbeda fungsi yang membentuk manusia, Bagian-bagian tubuh ini saling melengkapi sehingga jisim/tubuh manusia itu dapat hidup dengan sempurna. Bagian-bagian tubuh itupun masih dapat dipotong-potong (dibagi-bagi) lagi. Makhluk ghaib seperti malaikat pun mempunyai bagian tubuh/jisim yang ghaib (tak dapat dilihat).

Dalam QS Fathir:1 Allah berfirman bahwa malaikat mempunyai sayap.

 

Surat Al-Fathir Ayat 1
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dengan memahami Sifat Wahdaniyah Allah, maka kita akan terjaga dari syubhat memahami Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian dzat, jika membaca ayat Qur’an yang Mutasyabihat, yaitu ayat yang samar maknanya.

Bahaya Syubhat memahami Allah mempunyai anggota dzat

Mengapa mensifatkan Allah memiliki anggota DzatNya seperti ada sebagian orang yang mengatakan Allah punya Tangan, punya Wajah sebagaimana makna zahirnya adalah sangat berbahaya, sebab akan timbul syubhat yang membingungkan, misalnya kalau Allah Berkuasa, akan timbul pertanyaan,
– ada pada bagian Dzat Allah yang mana Kuasa Allah?
– Berapa jumlah bagian Dzat Allah?
Maka dengan demikian Dzat dan Kuasa Allah tidak lagi Esa. Atau akan timbul pemahaman syubhat seperti mengatakan Dzat Allah terdiri dari bagian-bagian dzat. Kita berlindung kepada Allah dari pemahaman yang demikian.

Dzat Allah adalah Maha Sempurna, Maha Esa, bukan materi, bukan fisik, bukan bentuk, bukan tubuh/jisim (baik zahir maupun ghaib). Tidak tersusun dari bagian-bagian dzat seperti makhluk (baik zahir maupun ghaib), karena Allah bukan makhluk dan tidak serupa dengan makhluk. Makna Sifat Maha Esa (Maha Tunggal) bagi Allah berbeda dengan makna sifat bilangan satu bagi makhluk, yang dapat dibagi-bagi. Maha Suci Allah dari serupa dengan mahklukNya.

Jadi Wajib menurut akal bahwa Allah itu bersifat Wahdaniyah (Esa) dan Mustahil bersifat ta´addud (berbilang) baik secara eksternal maupun internal.

Sebagaimana disebut dalam QS Ali Imran 190-191 di atas bahwa kita tidak disuruh memikirkan Dzat Allah, akal kita tidak akan mampu. sebab akal kita tidak diciptakan untuk itu. Karena Allah bukan makhluk, bukan bentuk, bukan tubuh/jisim (baik zahir maupun ghaib) yang dapat dibayangkan oleh akal. Setiap bentuk yang terbayang oleh kita adalah makhluk. Kita hanya disuruh berdzikir mengingatNya dan menyebut AsmaNya.

Dalam berfikir kita hanya disuruh bertafakur memperhatikan ciptaanNya untuk mengenal Allah melalui Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’anawiyahNya. Seperti namanya Sifat ini mempunyai makna yang dapat difahami tanpa ada kaitannya dengan tubuh/jism, tanpa kaitannya dengan bentuk.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah“.

Setelah kita mengenal Sifat Salbiyah Allah ini, maka kita dapat rasakan betapa Allah itu Maha Hebat dan Maha Agung, dan betapa kecil dan betapa tak ada apa-apanya kita sebagai makhlukNya.

(disarikan dari Kitab Kharidatul Bahiyah susunan Imam Ahmad Ad Dardir)

 Wallahu a’lam

1 Kommentar

Ninik · 11. November 2016 um 11:42

Terima kasih Bang Gery… dr kecil kita hanya diajar menghapal sifat Allah SWT, ulasan ini menperkaya khasanah pikir saya. Jazakallah.

Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.