Ilmu Dasar Islam Ahlusunnah Wal Jama´ah

Veröffentlicht von Gery Vidjaja am

Ilmu Islam semua berasal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam. Di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam dan Shahabat radhiyallahu anhum ilmu Islam belum perlu ditulis dan disusun seperti sekarang, sebab ilmu Islam sudah hidup dan melekat pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam dan para Shahabat radhiyallahu anhum. Seterusnya Ilmu Islam berkembang kepada generasi Tabi´in dari generasi Sahabat radhiyallahu anhum sebagaimana berkembangnya Islam dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam kepada Shahabat radhiyallahu anhum yaitu dengan hidup dan bergaul bersama mereka. Seterusnya Islam pada umumnya berkembang masih seperti itu juga di zaman Tabi´ut Tabi´ín.

Lama kelamaan ulama menyadari perlunya Ilmu Islam ini ditulis dan disusun secara terstruktur agar mudah dipelajari oleh umat islam di generasi berikutnya, sebab jumlah umat islam semakin banyak, sedang jumlah “ilmu Islam hidup” yaitu para Sahabat, Tabi´in dan Tabi´ut Tabi´in semakin sedikit.
Ilmu-ilmu dasar Islam kemudian ditulis oleh ulama karena keperluan mendesak untuk kemaslahatan masyarakat Islam di zaman-zaman berikutnya. Ilmu dasar Islam kemudian dibagi 3 sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wassalam agar kita mudah mempelajarinya:

“Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab RA, beliau berkata, ‘Pada suatu hari, di saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yangsangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat bekas-bekas bahwa dia datang dari jauh, dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya, sampai dia duduk di depan Nabi shallallahu alaihi wassalam, dan menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut Nabi, seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Islam ialah hendaknya angkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika engkau mampu.’

LAki-laki itu berkata, ‘Engkau benar’. Maka kami pun merasa heran terhadap laki-laki itu, dia bertanya tapi dia juga membetulkan (jawabannya). Selanjutnya dia berkata, ‘Terang pula kepadaku tentang Iman?’

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’

‘Engkau benar’, kata laki-laki itu. Seterusnya dia berkata, ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Jelaskan pula kepadaku tentang hari kiamat?.’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Laki-laki itu berkata lagi, ‘Katakan kepadaku tentang tanda-tandanya (kiamat)?’

Nabi shallallahu alaihi wassalam menjawab, ‘(Tanda-tandanya ialah) jikaseorang budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, papa, dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun rumah-rumah yang tinggi.’

Kemudian laki-laki itu meninggalkan kami dan hilang begitu saja. Lalu Nabi shallallahu alaihi wassalam berkata, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapakah laki-laki yang bertanya tadi?’

‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,’ jawabku.

Nabi shallallahu alaihi wassalam berkata, ‘Dia adalah Jibril yang datang kepada kamu sekalian untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.’ “   (HR. Muslim)

Hadits tersebut memuat 3 rukun agama, yaitu rukun Islam, Iman dan Ihsan. Untuk mempelajari ketiga rukun agama tadi Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah menjabarkannya menjadi ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid dan Ilmu Tasawuf sbb:


 

  1. Ilmu Fiqih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslim dan muslimat. Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa dalam ilmu fiqih, umat Islam Ahlussunnah wal Jama´ah mengikuti satu dari 4 Mazhab yang mu´tabar yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafei dan Mazhab Hambali.

  2. Ilmu Tauhid atau Aqidah, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib). Jumhur Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah bersepakat bahwa jika disebut Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Aqidah yang disusun oleh Imam Abul Hasan Al Asy´ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidi. Oleh sebab itu disebut juga Aqidah Ahlussunnah wal Jama´ah Asy´ariyyah dan Maturidiyah. 

  3. Ilmu Tasawuf, yaitu ilmu tentang akhlak bathin dimana sifat yang baik (mahmudah) wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan sifat yang buruk mazmumah mesti dibuang dan ditinggalkan. Di antara Imam yang telah menyusun Kitab Tasawwuf dari Ulama Ahlussunnah wal Jama´ah adalah Imam Junaid Al Baghdadi, Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani, Imam Ghazali, Ibnu Athoilah As-sakandari dan banyak lagi.

Ketiga ilmu ini wajib dituntut dan dimiliki oleh setiap mukallaf, tanpa ada keringanan untuk meninggalkannya. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat.”
Kita boleh mempelajari ilmu-ilmu secara terpisah, tetapi dalam mengamalkan Islam kita mesti mengamalkan ilmu-ilmu itu secara sekaligus.

logokmib


Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.