6 Rahasia Puasa dan Syarat Bathiniah (Nasihat Imam Ghazali)

Dipublikasikan oleh Gery Vidjaja pada

Bulan Ramadhan yang penuh berkat, rahmat dan ampunan telah datang kembali kepada kita. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah karena masih memanjangkan umur kita sehingga kita dapat kembali menemui bulan suci ini.  Imam Ghazali telah menyampaikan 6 rahasia puasa dan syarat bathiniah dalam Kitab Ihya ´Ulumuddin untuk kita sama-sama renungkan.

1. Menjaga mata: yaitu menahan diri dari leluasanya pandangan kepada sesuatu yang tercela dan dibenci agama atau kepada sesuatu yang menyebabkan lalainya hati serta melengahkannya dari berdzikir dan mengingati Allah Subhanahu wa Ta’ala

2. Menjaga lidah dari senda gurau yang tidak berguna, berdusta, mengumpat (ghbah) mengadu domba, berkata kotor, mencaci-maki, permusuhan dan pamer (menceritakan kebaikan dengan maksud untuk minta dipuji).

3. Menahan pendengaran dari mendengar segala sesuatu yang dibenci, sebab segala sesuatu yang haram diucapkan, maka haram pula didengarkan. Oleh sebab itu Allah Ta’ala menyamakan orang yang mendengarkan hal yang demikian itu dengan memakan sesuatu yang diharamkan, sebagaimana firmanNya dalam QS Al Maidah:42

Orang-orang yang durhaka itu suka sekali mendengarkan dusta dan makan dosa (segala yang diharamkan).

4. Menahan anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa seperti oleh tangan dan kaki dari perbuatan yang dibenci agama. Demikian juga menahan perut dari memasukkan makanan yang haram ketika berbuka. Tidak ada gunanya berpuasa yang dimaksudkan agar menahan makan dan minum sesuatu yang halal, namun di waktu berbuka memasukkan makanan atau minuman yang haram atau yang diperoleh dari jalan yang haram. Perumpamaan orang yang berpuasa demikian adalah seperti orang yang membangun istana atau gedung indah yang besar, tetapi kemudian dia menghancurkan kota. Oleh sebab itu Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda:

“Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehinya dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus” (yakni pahalanya lenyap sama sekali, na´udzu billahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian)

5. Ketika berbuka atau di malam hari, hendaknya kita jangan terlalu banyak makan sekalipun makanan itu halal dan diperoleh dari jalan yang halal, sehingga menjadikan amat padatnya perut. Sungguh tidak ada suatu wadah yang paling dibenci oleh Allah Ta’ala lebih dari pada penuhnya perut yang terisi penuh makanan sekalipun halal. Coba kita renungkan, apakah yang dapat diambil kemanfaatannya oleh seseorang yang berpuasa itu, padahal puasanya adalah penentang yang sangat terhadap musuh Allah Ta’ala dan untuk mengekang hawa nafsunya. tetapi ketika malam tiba, seolah-olah dia membalas dendam terhadap apa-apa yang tidak boleh didapatnya di siang hari. Apa manfaat dari puasa yang demikian, jika di waktu berbuka seperti demikian. Bahkan kadang-kadang ditambahkannya pula dengan makanan dan minuman berbagai macam yang biasanya tidak didapatnya di hari-hari dan bulan-bulan lain. Puasa yang tadinya dimaksudkan untuk menahan dan mendidik nafsu, berubah sebaliknya menjadi penguat nafsu dan syahwat. Na´udzu billahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

6. Hendaklah setelah berbuka, hatinya masih terus bergoncang yakni antara mempunyai rasa takut yang besar terhadap Allah Ta’ala (bahwa puasa dan ibadah lainya itu tidak diterima) dengan terus mempunyai rasa harap kepada Allah pula (agar puasa dan ibadah lainnya diterima), sebab kita sendiri tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah puasa dan ibadah kita diterima. Dengan demikian kita akan terus bersemangat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan menambah amal ibadah kita kepada Allah. Perasaan seperti ini hendaknya selalu dapat dirasakan oleh kita di setiap kita selesai melakukan segala ibadah kepada Allah.

Semoga Allah membantu kita dalam mengingatiNya, mensyukuri ni’matNya dan beribadah kepadaNya di bulan Ramadhan ini, sehingga Allah memberikan berkat, rahmat dan ampunanNya kepada kita semua. Amien Allahuma Amien.

Wallahu a’lam

Dari Kitab Mau’izhatul Mukminin, ringkasan Kitab Ihya ´Ulumuddin oleh Imam Ghazali.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
de_DEGerman id_IDIndonesian