Sifat Wajib bagi Rasul

Veröffentlicht von Gery Vidjaja am

Dalam pembahasan Sifat Wajib Allah telah diterangkan bahwa Sifat Maha Kuasa dan Maha Berkehendak Allah adalah hanya berkenaan dengan perkara yang Jaiz, yaitu perkara yang mungkin dilakukan dan mungkin pula ditinggalkan. Di antara Sifat Jaiz Allah adalah mengutus Rasul dan Nabi. Allah tidak wajib mengutus Nabi dan Rasul. Allah mengutus Nabi dan Rasul adalah atas Kehendak dan Kuasa Allah atas Sifat Rahmat (Kasih Sayang) Allah.

Definisi Nabi dan Rasul menurut syara’ adalah laki-laki yang menerima wahyu. Mereka diutus oleh Allah untuk berdakwah dan mendidik serta menjadi tauladan bagi manusia. Rasul membawa risalah (syariat) yang baru, sedang Nabi tidak membawa risalah (syariat) baru tetapi meneruskan syariat Rasul sebelumnya. Setiap Rasul adalah juga Nabi, sedang Nabi belum tentu Rasul. Dalam pembahasan selanjutnya kita hanya menyebutkan Rasul.

Setelah Allah mengutus Rasul, maka bagi kita yang Mukallaf berkewajiban untuk beriman kepada Rasul. Untuk itu kita perlu mempelajari Sifat Rasul agar kita dapat mengimaninya dengan benar. Untuk itu kita dituntut untuk memahami dan mengenal Rasul itu dengan benar sesuai dengan yang disuruh dan diredhoi Allah.

Pada diri Rasul ada Sifat Wajib yaitu Sifat yang mesti ada pada Rasul, Sifat Mustahil dan Sifat Jaiz yang mesti kita ketahui dan fahami berdasarkan dalil Aqli selain dalil Naqli, untuk kita dapat lebih mengenal Nabi dan Rasul dan lebih menguatkan keyakinan kita. Secara umum sifat Rasul adalah manusia yang paling sempurna secara lahir dan bathinnya, yaitu sifat sempurna sebagai manusia sebagaimana yang Allah tentukan.

Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai tingkatan, dari yang paling rendah. menengah dan yang paling sempurna. Manusia yang paling sempurna lahir dan bathinnya itulah Rasul. Semua Sifat yang mengurangi kesempurnaan manusia adalah Mustahil ada pada Rasul. Sifat kesempurnaan sebagai manusia diperlukan oleh Rasul untuk dapat menyampaikan risalahnya.

Sifat Wajib yang pertama adalah Amanah. Amanah artinya dipercaya, selalu melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya dengan penuh tanggung jawab.

Dalam Sifat Amanah juga terdapat Sifat Ishmah (Ma’shum = terpelihara dari dosa dan kesalahan). Demikian juga Sifat Wajib Rasul yang lain ada dalam Sifat Amanah yaitu Siddiq (selalu berbuat dan berkata benar) dan Tabligh (selalu menyampaikan wahyu yang mesti disampaikan, Fathanah (cerdas). Namun Ulama membagi Sifat Wajib Rasul itu dengan lebih rinci karena pentingnya Sifat-Sifat itu untuk lebih dijelaskan. Sebagaimana ketika kita membahas Sifat Wajib bagi Allah yaitu Sifat Wujud yang sebenarnya sudah mencakup semua Sifat Salbiyah, namun Ulama menjelaskan lagi Sifat Salbiyah untuk lebih menjaga kita dari pemahaman yang keliru dan agar memudahkan kita memahaminya.

Allah berfirman:

Surat Al Ahzab Ayat 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

 

Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah tauladan bagi kita semua. Tauladan dalam segala aspek kehidupannya, kehidupan pribadinya, ketika bersama keluarganya, shahabatnya dan masyarakatnya. Seluruh kehidupannya adalah tauladan bagi kita. Karena semua perbuatan, perkataan dan apa-apa yang beliau ketahui tetapi beliau diamkan adalah tauladan maka mustahil bahwa beliau melakukan khianat (tidak amanah) walaupun sedikit. Oleh sebab itu Rasul adalah Ma’shum yaitu terpelihara dari dosa.

Disinilah kita mesti belajar ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, sebab tidak semua yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mutlak boleh dilakukan oleh umatnya tanpa kecuali. Contoh adalah jumlah istri Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang melebihi dari 4 orang. Perkara ini hanyalah khusus untuk Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. tetapi bukan untuk umatnya.

Contoh lain adalah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah minum dalam keadaan berdiri. Namun pada umumnya Rasulullah shallallahu alaihi wassalam minum dalam keadaan duduk. Perbuatan ini diartikan oleh para Ulama bahwa minum dalam keadaan berdiri bukan haram tetapi makruh. Disunnahkan minum dalam keadaan duduk. Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah satu kali buang air dengan berdiri. Ini juga untuk memberitahukan kepada kita bahwa buang air sambil berdiri bukan haram, tetapi makruh hukumnya. Disunnahkan buang air dalam keadaan duduk.

Contoh lain Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah lupa jumlah rakaat ketika sedang sholat. Hal ini terjadi untuk dijadikan contoh apa yang mesti dilakukan jika kita lupa jumlah rakaat sholat.

Kita perlu memahami Sifat Amanah dan Ma’shum Rasulullah shallallahu alaihi wassalam agar ketika kita menemukan suatu teks dalam Quran dan Hadits yang memungkinkan kita terfikir untuk memandang itu adalah satu dosa, kita tidak langsung memahaminya secara tekstual. Perlakuan kita terhadap teks seperti itu adalah sama seperti ketika kita bertemu dengan ayat Mutasyabihat tentang Sifat Allah. Kita tidak memahami itu sebagai dosa dan kesalahan Rasul seperti makna tekstualnya, melainkan perlu kira cari makna disebaliknya.

Kalau teks itu adalah dari Hadits, kita perlu lihat sanad hadits itu apakah sahih atau tidak. Jika ternyata sahih, maka kita perlu mencari makna disebalik makna tekstualnya agar tidak bertentangan dengan ayat Quran di atas yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah tauladan bagi kita semua. Mustahil kalau perbuatan dosa dijadikan tauladan.

Contoh ketika membaca kiash Nabi Adam telah melanggar larangan Allah mendekati pohon dan akhirnya memakan buahnya di syurga. Ulama menerangkan bahwa peristiwa itu bukanlah disebabkan oleh keinginan Nabi Adam melanggar larangan Allah, tetapi sebab Nabi Adam tidak pernah terfikir bahwa ada makhluk jahat yang sanggup berbohong. Pendapat lain mengatakan bahwa di syurga tidak ada syariat, maka tidak ada dosa dikarenakan pelanggaran syariat.

Contoh lain adalah kisah Nabi Ibrahim sebagimana yang disebut dalam firman Allah dalam QS Al- An’am 76-79

Surat Al-An'am Ayat 76Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

 

Surat Al-An'am Ayat 77Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.

 

Surat Al-An'am Ayat 78Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

 

Surat Al-An'am Ayat 79Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

 

Ayat di atas bukanlah menceritakan Nabi Ibrahim mencari Tuhan, sehingga ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa Nabi Ibrahim pernah menyembah selain Allah atau pernah musyrik. Musyrik adalah dosa besar. Mustahil bagi Rasul melakukan dosa kecil apalagi dosa besar. Ayat di atas sebenarnya adalah proses dakwah Nabi Ibrahim alaihi salam ketika berbicara di depan kaumnya yang masih menyembah selain Allah, yaitu berhala, matahari dan bulan. Maka dalam menyampaikan hujjah bahwa yang selain Allah itu bukanlah Tuhan, beliau alaihi salam ingin mengajak berfikir dan memberikan perumpamaan dengan matahari dan bulan. Jika manusia menyangka matahari atau bulan sebagai tuhan, keduanya itu tidak selalu nampak, tetapi setiap hari akan hilang dan muncul lagi, artinya matahari dan bulan itu tidak berkuasa terhadap hukum alam yang berlaku padanya. Jadi bagaimana matahari dan bulan yang tidak dapat menguasai dirinya sendiri dapat menguasai manusia. Nabi Ibrahim mengajak kaumnya berfikir bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa yang layak disembah sebagai Tuhan.
Diskusi antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat kita jadikan contoh bagaimana kita bercerita kepada orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Misalnya kita ceritakan tentang teori Big Bang yang sudah dikenal di zaman kita ini. Teori big bang mengatakan bahwa volume dunia ini dahulunya adalah hanya satu titik dengan massa/materi yang sangat padat dan panas luar biasa. Kemudian terjadilah Big Bang yang menandakan mulainya waktu t=0 dan materi mulai pula membesar volumenya.
Kita katakan kepadanya, umpama Tuhan tidak ada, kemudian kita tanya padanya siapakah yang menyebabkan terjadinya Big Bang? Dari mana energi sebesar itu datang sedang sebelumnya tidak ada sesuatupun? Sedang matahari yang kita lihat sehari-hari selalu mengeluarkan energi yang luar biasa besarnya.
Tentu pernyataan kita ini bukan berarti keyakinan kita bahwa kita ragu bahwa Tuhan itu ada, tetapi kita mengajak orang itu berfikir bahwa mustahil Big Bang itu ada dengan sendirinya, kecuali ada Yang Mengadakan, yaitu Allah Maha Pencipta,

Demikian juga firman Allah dalam Quran Surat Al Fath:1-2

Surat Al-Fath Ayat 1Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,
Surat Al-Fath Ayat 2supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,

 

Dalam ayat di atas dikatakan bahwa Allah akan mengampuni dosa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang lalu dan yang akan datang. Maksudnya bukan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam berbuat dosa di masa lalu dan masa yang akan datang. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah terpelihara dari dosa. Ayat itu maksudnya adalah Allah memuliakan dan menggembirakan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Walaupun Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak berbuat dosa, namun Allah menjanjikan akan mengampuninya. Namun walaupun begitu, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam selalu memohon ampun kepada Allah sebagai tauladan rasa penghambaan yang sempurna kepada Allah.

Untuk kita dapat memahami bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mempunyai rasa kepekaan yang sangat sempurna terhadap dosa, sehingga beliau terpelihara dari dosa. Kita perumpamakan sebegai berikut. Kita melihat berbagai tingkatan manusia beriman. Kalau kita baca kisah-kisah para wali dan ulama. Kita akan mengenal bagaimana sifat Taqwa mereka sehingga sangat takut berbuat dosa. Misalnya ada seorang wali yang dia 40 tahun tidak khusyu sholat, disebabkan pernah berprasangka buruk ketika melihat saudaranya yang beribadah, bahwa saudaranya itu tidak ikhlas dan berbuat ria. Imam Bukhari ketika latihan memanah, panahnya terkena kayu suatu bangunan. Maka beliau bersedih dan berwajah muram, sampai beliau memohon dihalalkan atas kerusakan yang dibuatnya kepada pemilik bangunan kayu itu. Kisah seorang wali yang termakan apel yang terapung di atas sungai, dan baru teringat bahwa apel itu pasti jatuh dari pohon. Dan setelah tahu bahwa pohon itu milik seseorang maka dia minta dihalalkan dengan syarat apapun. Ada yang terlambat bangun sholat langsung teringat mencari-cari dosa apa yang telah dilakukannya sehingga sampai Allah biarkan terlambat bangun. Itu baru manusia yang bukan Rasul. Bagaimana dengan Rasul?

Ada orang yang sudah merasa berhasil melakukan ibadah terbaik jika bangun 30 menit sebelum Shubuh, tetapi ada orang yang merasa terlambat jika bangun 1 jam sebelum Shubuh sebab biasanya dia 2 atau 3 jam ibadah sebelum masuk Subuh. Hukum syariat adalah tetap bahwa sholat tahajud adalah sunnat. tetapi bagaimana memandang suatu hukum itu tergantung pada hubungan hatinya seseorang kepada Allah.

Dikatakan Rasul terpelihara dari dosa. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana sebelum diangkat menjadi Rasul? Jumhur ulama mengatakan Rasul tetap terpelihara dari dosa walaupun sebelum diangkat menjadi Rasul. Bagi Nabi beliau sudah mengikuti syariat Rasul sebelumnya, sebelum diangkat jadi Nabi, Bagi Rasul yang ajaran Rasul sebelumnya sudah hampir hilang pun juga terpelihara dari dosa. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam telah mendapat gelar Al Amin yang dipercaya sebelaum beliau diangkat menjadi Rasul, karena Sifat Amanahnya.

Sifat berikutnya adalah Siddiq artinya benar. Ini adalah Sifat yang penting untuk dijelaskan, sebab Rasul membawa risalah yaitu syariat dan berita ghaib dan menyampaikan dakwah. Maka apa yang disampaikan dan dilakukan adalah pasti benar. Mustahil ada kebohongan walaunpun sedikit. Ini yang perlu dijelaskan dari Sifat Siddiq yang sebenarnya juga sudah terrangkum dalam Sifat Amanah. Untuk membuktikan kebenaran ini Allah memberikan Mu’jizat yang dapat dilihat. Yaitu peristiwa yang melanggar hukum adat (hukum alam). Tetapi untuk mengetahui suatu itu Mu’jizat, kita bukan melihat bentuk Mu’jizat, tetapi diri Rasul. Kaidahnya adalah kalau kita melihat suatu keajaiban yang melanggar hukum adat, maka lihatlah siapa yang melakukan bukan kejadian aneh itu sendiri.

Sifat Wajib Rasul yang berikutnya adalah Sifat Tabligh artinya menyampaikan, yaitu Wajib bagi Rasul menyampaikan apa-apa yang mesti disampaikan kepada umatnya. Mustahil Rasul menyembunyikan ilmu yang mesti disampaikan. Namun ada juga perkara yang Rasul ketahui yang tidak wajib disampaikan, Sebuah hadits dalam Riyadh al-Shalihin 447

وَعَنْ أنس، رَضِيَ اللهُ عَنْه، قالَ : خَطَبَ رَسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خُطْبَةً مَا سَمِعْتُ مِثْلَهَا قَطُّ، فقالَ :

لَوْ تعْلمُونَ ما أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كثيراً

قَالَ : فَغَطَّى أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . وُجُوهَهُمْ . ولهمْ خَنِينٌ .

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Dari Anas ra. berkata: Rasulullah SAW berkhutbah, tidak pernah aku mendengar suatu khutbah pun yang semacam itu karena amat menakutkan. Beliau SAW bersabda: Seandainya jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Anas berkata: Maka para sahabat Rasulullah SAW menutupi muka mereka lalu menangis terisak-isak“. (Muttafaq ‘alaih)

Sifat Wajib yang terakhir adalah Sifat Fathanah artinya cerdas. Rasul adalah manusia yang paling cerdas dan kuat akalnya. Jangan kita mengira ada orang lain yang lebih pandai dan lebih kuat akalnya dari Rasul.

Sifat Jaiz Rasul sifat yang mungkin ada dan mungkin tidak ada. Ianya adalah semua sifat kemanusiaan yang tidak mencederai kesempurnaannya sebagai manusia. Maka, minum, berdagang, berkeluarga dll. Orang kafir Quraisy dahulu heran mengapa Rasul juga ikut berjalan di pasar? RAsul adalah model tauladan untuk semua. Beliau memberi contoh dipertengahan, adil dan tepat.  Contoh:

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam adalah manusia yang sempurna. Beliau memberi contoh untuk manusia yang kuat dan manusia yang lemah. Ketika peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah. Sayidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berhijrah dengan terbuka bahkan membuat pengumuman dan menantang bahwa beliau akan hijrah lewat jalan ini, siapa yang ingin istrinya menjadi janda atau anaknya menjadi yatim, dipersilakan menunggunya di jalan itu. Sedang Rasulullah shallallahu alaihi wassalam hijrah bersama Sayidina Abu Bakar radhiyalahu anhu secara diam-diam. Ini bukan berarti bahwa Sayidina Umar lebih berani dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam, karena orang yang paling sempurna keberaniannya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Ini dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam agar umatnya dapat mencontohnya. Disinilah Sifat Amanah disertai Fathanah pada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Ketika kehilangan anaknya Ibrahim, beliau menangis. Ketika beliau ditanya mengapa beliau menangis. Sayidinia ‘Abdurrahman bin ‘Auf radliallahu ‘anhu bertanya kepada beliau: “Mengapa engkau menangis, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).”.
Namun ada Shahabat wanita yang kehilangan 3 anaknya karena syahid tidak menangis bahkan menyesal karena hanya mempunyai 3 anak laki-laki yang dapat disumbangkan untuk Islam. Ini bukan berarti bahwa Shahabat wanita itu lebih kuat dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Rasulullah adalah manusia dengan sifat kemanusiaan yang sempurna yang menjadi tauladan bagi seluruh manusia khususnya umat Islam.

Allah tidak wajib mengutus Rasul. Mengutus Rasul adalah Jaiz bagi Allah: Allah mengutus Rasul atas KehendakNya di atas Sifat RahmatNya, maka kita dituntut untuk bersyukur kepada Allah atas rahmatNya ini. Pengetahuan tentang diri Rasul ini diberikan kepada kita melalui Rasulullah shallallahu alaihi wassalam sendiri. maka kitapun patut selalu bersyukur kepada beliau, selalu mengenang jasa beliau. Yang memberitahukan kepada kita tentang Rasul adalah para Shahabat dan seterusnya melalui Ulama yang sambung menyambung hingga kepada kita. Maka patut bagi kita untuk mengenang jasa mereka. Begitulah ajaran Rasulullah agar kita mendapatkan redha Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari Kharidatul Bahiyyah tulisan Imam Ahmad Ad Dardir

 

 


Schreibe einen Kommentar

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.